fbpx
Sponsor Eny Setiyawati 081373365444

ECO FARMING

SOLUSI CERDAS BERTANI

Apakah lahan pertanian Anda tidak subur atau bahkan sulit diolah?

Atau, Apakah keinginan menjadi petani organik terhalang karena berbagai alasan? 

Kini hadir Pupuk organik super aktif Eco Farming, yang mengusung konsep zero emition concept akan membantu

Anda dalam menyelesaikan permasalahan pertanian Anda.

Eco Farming Zero Emition Concept

Zero Emition Concept merupakan konsep pertanian yang dipegang teguh oleh para petani organik, seperti petani Jepang saat ini. Menggunakan bahan-bahan ramah lingkungan dalam bisnis pertanian mereka mengantar Jepang menjadi salah satu produsen pertanian terbesar di dunia. Saat ini, negara-negara lain turut mengikuti jejak Jepang dalam mempertahankan kelestarian lingkungan dengan menggunakan pupuk-pupuk atau zat hara tanaman yang tidak merusak tanah dan lingkungan mereka.

Definisi dari zero emotion concept sendiri adalah pupuk organik super aktif dan pencegah hama tanaman. Pada dasarnya bahan-bahan yang terkandung dalam pupuk organik ini berasal dari tanaman obat yang diperkaya dengan mikroba aktif, plus makro, mikro nutrient. Bahan-bahan tersebut juga digunakan sebagai alternatif pengganti 13 zat unsur hara yang penting bagi tanaman dari tanahnya.

Sayangnya, karena perawatan pertanian organik cukup rumit, petani Indonesia memilih menggunakan pupuk kimia. Walaupun efeknya cukup instan, nyatanya dampak buruk pupuk kimia menyebabkan tanah menjadi keras dan sulit diolah. Keadaan tanah tersebut kerap kali di salah artikan dengan hilangnya tanah lapisan atas (top soil), padahal keadaan ini disebabkan oleh menumpuk nya residu atau sisa pupuk kimia yang digunakan selama bertahun-tahun. Tak tanggung-tanggung, menurut penelitian, residu ini telah ada sejak 1969 di tanah Indonesia.

Residu pupuk kimia ini secara tidak langsung akan menyebabkan tanaman di atasnya mengalami penurunan produktivitas yang signifikan. Selain itu, dampak lain dari penggunaan pupuk kimia yang terus menerus adalah struktur tanah yang keras dan sukar diolah, tercemar nya air tanah, berkurangnya kandungan unsur-unsur biologis dalam tanah, hingga berkurangnya daya tahan tanaman terhadap hama. Seluruh dampak di atas pada akhirnya akan mendorong petani untuk kembali menggunakan pupuk kimia lebih banyak lagi.

Sebenarnya, Apa yang Dibutuhkan Tanaman?

             Lingkaran setan inilah yang harusnya diputus oleh para inovator pertanian Indonesia. Seperti yang kita ketahui bersama, tanah Indonesia tidak hanya bermasalah dengan dampak buruk pupuk kimia, namun juga adanya pengurangan unsur hara. Jurnal Soil Science (1998) menyebutkan bahwa dari sekian banyaknya unsur hara yang ada di alam, terdapat 13 unsur yang sangat dibutuhkan oleh tanaman. Ketigabelas unsur tersebut dinamakan dengan unsur hara essensial.

             Unsur essensial ini dapat dibagi menjadi dua jenis, yaitu unsur hara mikro dan makro. Unsur hara mikro, seperti namanya, merupakan unsur yang paling utama. Unsur hara kembali dibagi menjadi dua jenis, yaitu unsur hara makro utama da unsur hara makro sekunder. Bagi tanaman, unsur ini dapat diibaratkan sebagai energi. Terdapat tiga unsur makro utama, diantaranya yaitu, Nitrogen (N), Phospor (P), dan Kalium (K). Ketiga unsur makro tersebut dapat diperoleh melalui udara, tanah, NPK, urea, Tsp, KCL, dan lainnya. Jika diibaratkan dengan makanan manusia, unsur hara makro ini setara dengan nasi yang dikonsumsi manusia sehari-hari. 

               Selain utama, terdapat pula unsur hara makro sekunder. Unsur ini terdiri dari Sulfur (S), Magnesium (Mg, dan Kalsium (Ca). Ketiga unsur tersebut dapat diperoleh melalui tanah, dolomite, kapur pertanian, dan ZA. Selanjutnya, terdapat unsur hara mikro. Unsur ini terdiri dari Boro (B), Seng (Zn), Mangan (Mn), Tembaga (Cu), Molbdenum (Mo), Natrium (Na), Aluminium (Al), dan lainnya. Tanaman mendapat unsur mikro di dalam tanah, kompos, pupuk kandang, dan bokashi.

            Tapi, apakah lengkapnya unsur hara cukup? Tentu tidak. Tanaman membutuhkan lima unsur untuk mampu bertahan hidup secara subur. Kelima unsur tersebut meliputi makhluk hidup (mikro organisme, serangga, dll), udara, air, sinar matahari dan unsur hara. Bayangkan jika salah satu dari kelima faktor tersebut hilang karena penggunaan pupuk kimia, tentunya produktivitas tanaman yang Anda rawat seperti anak sendiri akan berkurang, bukan?

 

Terbunuhnya mikroba tanah akibat penggunaan pupuk kimia berlebih

          Tanah memiliki beberapa unsur komposisi yang menjadikannya lebih bernutrisi bagi tanaman di atasnya. Secara umum, dalam tanah terkandung udara (20% s/d 30%), mineral (45% s/d 55%), air (20% s/d 30%), bahan organik (4%), dan mikroorganisme (1%). Berdasarkan data tersebut, dapat disimpullkan bahwa mikro organisme merupakan unsur paling kecil di tanah, namun siapa sangka, unsur terkecil ini memiliki peran yang cukup besar terhadap kesburuan tanah.

        Mikroorgaisme tanah memiliki beberapa peran, seperti menghasilkan enzim, hormon, dan vitamin dalam proses penyuburan tanah. Selain itu, mikroorganisme memiliki peran dekomposer, yaitu mampu menguraikan zat organik, memperbaiki sifat kimia, sifat fisik, dan sifat biologi tanah. Tidak hanya itu, mereka mampu mengatur keseimbangan unsur hara dan menghasilkan asam karbol (phenol) yang mampu meningkatkan daya tahan tanaman terhadap hama dan penyakit.

             Dengan kemampuan di atas, mikroorganisme tidak hanya penting bagi tanah, tapi secara tidak langsung, juga penting bagi tumbuhan. Maka dari itu, kini hadir berbagai teknologi dikembangkan guna meningkatkan jumlah mikroorganisme dalam tanah. Salah satunya adalah praktek inokulasi. Praktek ini berfungsi agar tanah memiliki berbagai mikroba unggul hasil skrining (cloning).

            Jika penggunaan pupuk kimia terus menerus dilakukan, maka bukan tidak mungkin mikroorganisme ini akan mati dan membunuh kesuburan tanah itu sendiri. Maka dari itu, telah banyak petani yang kini berpindah hati ke pupuk organik, demi keberlangsungan kesuburan tanahnya.

            Namun, apakah menggunakan pupuk organik saja cukup? Lagi-lagi jawabannya tidak. Menggunakan pupuk organik memang mampu mempertahankan kesehatan tanah, namun tidak meningkatkan produktivitas tanaman dan ketahanannya. Masalah ini telah menjadi tanda tanya besar bagi petani, karena tindakan yang diambil seluruhnya memiliki resiko kerugian tersendiri. Oleh karena itu, kini telah lahir sebuah pengolahan unsur hara yang memadukan antara pupuk organik dan pupuk hayati. Hasil pengolahan tersebut bernama Pupuk Organik Eco Farming.

Manfaat Eco Farming

         Eco Farming adalah pupuk atau nutrisi berbahan organik super aktif diperkaya dengan unsur hara makro, mikro, asam organik yang merangsang nitrifikasi, hormon pertumbuhan, hingga mikroba-mikroba aktif. Mikroba ini merupakan mikroorganisme non pathogen (mikroba yang tidak menyebabkan penyakit) sehingga tidak merusak kandungan asli tanah. Keseluruhan kandungan produk Eco Farming ini disubstitusikan dengan bakteri non pathogen sehingga bakteri tersebut dapat bertahan lebih lama. Disamping itu, produk Eco Farming merupakan 100% ekstraksi bahan organik murni yang diproses dengan teknologi tinggi ramah lingkungan (zero emition concept).

     Pupuk Organik Eco Farming diproduksi melalui proses Biological Complex Process (BPC), yaitu proses biologis kompleks yang melibatkan ribuan senyawa berbeda yang digabungkan oleh reaksi kimia. Proses ini mirip seperti proses metabolisme dalam tubuh manusia.

            Lalu, bagaimana manfaat Eco Farming bisa maximal? Secara umum, dalam proses fermentasi dalam tanah melibatkan banyak hal selain material organik. Mikroba fermentator (pengikat N, P, dan dekomposer) akan melakukan proses fermentasi bersamaan dengan material yang telah melalui tahap sortining, katalisator, sterilisasi, dan netralisir logam berat dan ditambah dengan pupuk organik Eco Farming sehingga mampu memperbaiki sifat kimia, fisik, dan biologi tanah serta pembentukan granulasi (penyembuhan luka jaringan tanaman).

      Dengan proses tersebut, penggunaan Eco Farming yang berkelanjutan akan meberikan manfaat utama, yaitu:

  • Memperbaiki kesuburan tanah
  • Melarutkan dan menyediakan phospat
  • Menghasilkan beberapa enzim pertumbuhan dari mikroba-mikroba pilihan dalam Eco Farming
  • Mengurangi pemakaian pupuk kimia sebanyak 25% pada tahap awal
  • Mengendalikan dan mencegah serangan pathogen pada tanaman
  • Mempercepat pematangan buah dan pertumbuhan tanaman
  • Mempertahankan kesehatan tanaman, membantu pertumbuhan dan membantu tanaman menghasilkan hasil produksi yang berkualitas secara stimulan
  • Meningkatkan kuantitas produksi tanaman
  • Mengurai senyawa beracun bagi tanaman secara perlahan-lahan
  • Aman bagi lingkungan dan makhluk hidup

Untuk informasi order produk dan peluang bisnis nya silahkan hubungi sponsor anda :

Nama :

– No Hp :

atau klik tombol whatsapp untuk chat langsung dengan sponsor anda

Chat Whatsapp